Sabtu, 18 Juli 2009

DIAM ITU EMAS

(Diam Aktif)
K.H. Abdullah Gymnastiar

Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas
Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

c. Diam Sombong
Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah
Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jah lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)
Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

2. Keutaam Diam Aktif

a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul
Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:
1. Diam dari perkataan dusta
2. Diamdari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
4. Diam dari kata yang berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti
8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga.

AgAma itu NASehat (HR . MusLim)

Nasehat adalah kewajiban umat beriman dan misi para nabi dan rasul (QS 7:68; 7:93). Rasulullah SAW, mengingatkan bahwa banyak umat yang binasa akibat ketidakpedulian mereka terhadap nasehat. Bahkan beliau SAW menegaskan agama sebagai praktek memberikan nasehat kepada umat Islam. Artinya, nasehat dijadikan alat (tool) yang utama darikebenaran, umpan balik (feed back) kejujuran dalam masyarakat Islam.

Persaudaraan dan kecintaan merupakan kelanjutan dari keimanan seseorang. Jika kita mencintai saudara seiman, ukuran kecintan ialah berapa banyak nasehat yang ikhlas diberikan padanya. Karena menyayangi orang lain berarti bertanggung-jawab untuk menunjukkan kesalahan mereka. Memang, sahabat yang diperlukan dalam hidup ini adalah sahabat setia yang mau memberikan nasehat bila melihat saudaranya khilaf dan salah. Khalihah Umar RA. pernah berkata: "Semoga Allah merahmati siapa yang memberitahu kesalahanku. Kesalahan itu kuanggap hadiah". Beliau melihat kesalahan sebagai hadiah baginya. Sebenarnya, kesalahan bukan saja hadiah yang sangat berharga, tetapi
juga sesuatu yang tak dapat diabaikan.


Nasehat sebagai umpan balik
"Orang mu'min itu adalah cermin terhadap orang mu'min yang lain" (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Menurut nabi Muhammad SAW, seorang mu'min adalah cermin bagi saudaranya. Di cermin kita melihat bayangan kita dengan tepat dan jelas. Maka, kita harus melakukan yang sama ketika memindahkan gambaran tersebut kepada saudara seiman melalui nasehat. Ingatlah,
kita berbuat sesuatu tanpa kemampuan untuk meneliti diri kita sendiri. Ini adalah kelemahan kita. Tetapi Allah SWT menutupi kelemahan itu dengan menghadirkan saudara mu'min yang lain sebagai cermin antara satu dengan yang lain. Melalui perbuatan mereka kita dapat melihat perbuatan kita.

Nasehat adalah komunikasi dua arah (103:3). Setiap mu'min harus siap memberi dan menerima nasehat. Keduanya memerlukan kekuatan pribadi. Orang yang dinasehati mestilah menerima dengan hati dan pikiran terbuka, senyuman yang berseri dan rasa syukur, diikuti dengan kesungguhan untuk memulai memperbaiki diri.


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memberikan nasehat:
• Menyampaikan dengan ikhlas dan kasih sayang
• Tidak menunjukkan kesalahan di depan orang banyak
• Sabar dalam melihat perubahan
• Tugas kita adalah memberi nasehat dan ia akan berhasil hanya dengan izin Allah


By Jundia of Anonim


Blog EntryURGENSI DAKWAHJan 11, '08 2:53 AM
for everyone

Umat Islam sekarang ini sedang berusaha bangkit. Namun berbagai julukan yang tidak baik ditujukan kepada umat Islam di berbagai belahan dunia. Kondisi ini sangat bertolak belakang sekali dengan masa-masa kejayaan Islam dahulu. Peradaban Islam yang begitu tinggi pernah mewarnai dunia. Berbagai analisa yang telah dilakukan para ulama tentang penyebab kemunduran umat Islam, merujuk kepada satu sebab yaitu jauhnya umat Islam dari Al-Qur`an. Al-Qur`an yang telah disediakan oleh Allah sebagai petunjuk hidup manusia, sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

Kejauhan umat Islam dari Al-Qur`an ini disebabkan oleh dua faktor yaitu kondisi intern umat Islam sendiri dan adanya upaya dari pihak luar. Kondisi intern ini yaitu kondisi dimana umat Islam tidak lagi mengacuhkan Al-Qur`an sebagaimana telah dilansir oleh Allah dalam Qs.25:30. Al-Qur`an hanya dijadikan sebagai simbol saja. Disamping itu juga memang ada pihak luar yang ingin menjauhkan umat Islam dari pedoman hidupnya yang pada akhirnya umat Islam tidak lagi mempunyai kekuatan. Dua hal ini menyebabkan umat Islam sendiri tidak mengenal Islam dengan baik, misalnya terjadi pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Bahkan banyak umat Islam yang justru kehilangan harga diri, merasa diri rendah (imperiority complex). Pada akhirnya umat Islam kehilangan kepribadiannya. Kepribadian Islam tidak lagi tercermin dari umat Islam. Inilah tugas berat para du’at untuk mendekatkan kembali umat Islam dengan Al-Qur`an untuk digunakannya sebagai pedoman dalam kehidupannya.
Pentingnya Dakwah
1. Merupakan kebutuhan yang mendesak, karena tanpa dakwah manusia akan rusak dan tanpa aturan. Di lain pihak banyak penyeru kearah kebatilan yang tidak henti-hentinya juga mengajak kepada kebatilan.
2. Merupakan kebutuhan sosial, yaitu dengan alasan :
- Karena manusia membutuhkan orang yang menjelaskan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Allah (36:6;17:15).
- Karena kondisi kehidupan umat saat ini diwarnai oleh kerusakan moral, dan para pelakunya ingin agar kerusakan tersebut tersebar di masyarakat (4:89;9:67).
3. Merupakan kewajiban yang dituntut syar`i:
- Dakwah adalah wajib atas setiap muslim (3:104,110; 9:71). Dari Nu`man bin basyir r.a, dari Nabi SAW bersabda, Perumpamaan orang yang senantiasa melaksanakan hukum-hukum Allah dan orang yang terperosok didalamnya adalah laksana orang-orang yang membagi tempat dalam suatu bahtera, dimana ada sebagian orang yang duduk diatasnya, adapula yang duduk dibawahnya. Ketika orang-orang yang ada dibawahnya memerlukan air, tentu mereka harus melintasi orang-orang yang ada dibagian atas. Kemudian mereka berkata "Kami akan lubangi saja bagian bawah ini". Jika orang yang berada di atas membiarkan apa yang diinginkan orang yang di bawah, niscaya akan binasalah semua. namun bila mereka mencegah perbuatan itu maka akan selamatlah semua.
- Dari Abu Sa`id al khudri r.a, ia berucap Kudengar Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, ubahlah dengan hatinya. Dan yang demikian itu selemah-lemahnya iman". (HR. Imam Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu majah)
4. Adanya ancaman bagi yang tidak mau berdakwah (2:174; 3:187; 16:44).
5. Merupakan tugas kita untuk meneruskan misi perjuangan para nabi dan rasul (42:13).
Keutamaan Dakwah
Merupakan perbuatan/perkatan yang terbaik (41:33; 33:45-46).
Merupakan salah satu jalan menuju kebaikan. Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menyuruh kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka." (HR. Muslim).
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Ali r.a, "Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui kamu itu lebih baik daripada unta merah." (HR. Muttafaqun`alaih)
Dakwah merupakan aktivitas yang mulia dan luhur, tetapi juga merupakan kewajiban yang berat. Agar dakwah ini berhasil ia membtuhkan pribadi yang tangguh untuk memikulnya. Untuk itu dibutuhkan faktor-faktor pendukung keberhasilan dakwah, yaitu sebagai berikut :
  1. Al-Fahmu ad-Daqiq (Pemahaman yang rinci)
  2. Al-Iman al-`Amiiq (Keimanan yang dalam)
  3. Al-Hubb al-Watsiiq (Kecintaan yang kokoh)
  4. Al-Wa`yu al-Kaamil (Kesadaran yang sempurna)
  5. Al `Amal al-Mutawashil (Kerja yang kontinyu)
REFERENSI
    • DR. Fadhl Ilahy, Menggugah Semangat Berdakwah, Khazanah Ilmu.
    • Jum`ah Amin Abdul Aziz, Fiqh Dakwah, Citra Islami Press
    • Panduan aktivis Harokah, Pustaka Al-Ummah

Sabtu, 20 Juni 2009

Mencintai tAnpa syArat

Cintailah Tanpa Syarat

By: agussyafii

Malam belum begitu larut. Hana nampak sudah mulai mengantuk. Istri saya mengipasi sambil membacakan Shalawat Nabi. Biasanya juga menyanyikan 'Rukun Islam Yang Lima' atau 'Alloh Tuhanku' sampai akhirnya Hana tertidur lelap. Kegiatan tiap malam bagi seorang ibu mengantar mimpi indah pada putrinya merupakan wujud ekpresi cinta. Anak-anak akan lebih mudah meniru setiap waktu dan tumbuh menjadi dewasa yang semua perilakunya dipengaruhi oleh ekpresi cinta dari orang-orang disekelilingnya.

Hidup bersama anak-anak adalah pengungkapan diri kita. Rasanya kita seperti bercermin. Anak-anak suka sekali meniru. Mereka belajar dengan meniru. Meniru gerak tubuh kita. Meniru setiap kata yang kita ucapkan. Bahkan kita seolah bisa melihat diri kita sendiri didalam sosok anak-anak.

itulah yang juga saya alami. Setiap kali saya menerangkan di depan anak-anak Amalia, mulai cara saya berbicara dan gerak tangan saya selalu ditiru oleh Hana. Saya seolah bercermin melihat sosok diri saya pada Hana dan Hana melihat saya sebagai sosok cermin bagi dirinya.

Anak-anak kita bercermin pada diri kita sebagai orang tua. orang tua yang bahagia mampu menebarkan cinta dan anak-anak merasa dicintai dan diterima maka anak-anak kita akan tumbuh menjadi orang yang hidup penuh dengan cinta. Cintailah anak-anak kita tanpa syarat dengan cinta itulah mereka menemukan kebahagiaan didalam dirinya dan kebahagiaan itu tidak membuatnya bergantung pada lingkungan diluar dirinya. Itulah cinta yang berasal dari Alloh SWT dan hanya untuk Alloh SWT.

--
'Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah milik Alloh, Tuhan Semesta Alam.'

Wassalam,
agussyafii

Minggu, 18 Januari 2009

Slamet Iman Santoso (1907-2004) Bapak Psikologi Indonesia

Slamet Iman Santoso (1907-2004) Bapak Psikologi Indonesia

Profesor emeritus Fakultas Psikologi UI yang meninggal dalam usia 97 tahun, Selasa 9 November 2004 dini hari pukul 00.30, ini tidak saja perintis dan pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tetapi juga perintis studi psikologi di Indonesia. Patutlah dia digelari Bapak Psikologi Indonesia. Psikiater kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September 1907, ini juga ikut mendirikan beberapa universitas.Pria yang senang berpakaian putih-putih ini dikenal jujur, jernih, tegas dan konsisten. Prinsip hidupnya tak pernah berubah sampai akhir hayatnya. Penerima Bintang Mahaputra Utama III (1973) ini, menurut puteranya Dr Oerip Setiono, meninggal setelah tiga tahun terakhir terbaring di rumah kediamannya, Jl Cimandiri 26, Jakarta Pusat. Jenazahnya dimakamkan di TPU Menteng Pulo setelah sebelumnya disemayamkan di aula FKUI Salemba, Jakarta. Dia meninggalkan tujuh anak, 13 cucu dan delapan buyut. Isterinya, Suprapti Sutejo, sudah terlebih dahulu meninggal pada November 1983.Penerima penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan Nasional dari IKIP Jakarta (UNJ) pada tahun 1978, ini selain sebagai perintis dan pendiri Fakultas Psikologi UI juga ikut mendirikan Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Airlangga dan Universitas Hasanuddin. Motivasi mantan Direktur Rumah Sakit Jiwa Gloegoer, Medan (1937-1938), ini merintis dan mendirikan fakultas psikologi, karena sebagai psikiater menemukan banyak masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh psikiater. Dalam bidang profesi kedokteran, dia menerima penghargaan Wahidin Sodiro Hoesodo dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1989. Sebagai seorang ahli psikologi, tahun 1961, dia memimpin sekitar lima puluh mahasiswa Fakultas Psikologi UI, mengunjungi penduduk yang terkena gusuran pembuatan Istana Olahraga Senayan dan dipindahkan ke daerah Tebet dan Penjaringan. Mereka berdialog dengan penduduk tergusur itu. Kunjungan ini, menjadi awal pogram mahasiswa turun ke lapangan (masyarakat).Bidang studi psikologi pun makin menarik perhatian banyak orang. Masa-masa psikologi mengalami kesulitan (saat psikologi hanyalah sebuah jurusan dalam lingkungan FKUI), seperti sudah terlupakan. Saat itu, kata Slamet dalam pidato ketika menerima penghargaan bintang jasa Mahaputra Utama III (1973), dia merasa ibarat seorang yang sedang berdiri seorang diri di tepi pasir yang gersang tanpa pedoman untuk melintasinya sambil mengajak saudara-saudara mengembangkan disiplin ilmu yang baru ini. Conny Semiawan, mantan rektor IKIP Jakarta yang juga murid dan sempat menjadi asisten Slamet Iman dalam menguji mahasiswa, mengenang Slamet sebagai orang yang sangat tertib, teliti dan juga memiliki wawasan yang sangat luas, selalu berfikir filosofis meskipun bukan ahli filsafat. Dalam menguji mahasiswa, Slamet selalu menegaskan jangan menanyakan apa yang kamu ketahui, tetapi usahakan untuk bertanya apa yang dipahami mahasiswa. Dengan demikian dialog akan terjadi dan mahasiswa dapat mengaktualisasikan dirinya.Menurut Conny Semiawan, Slamet adalah tokoh pendidikan yang berani. Dia adalah orang pertama mengusulkan perlunya satu standar bagi semua jenjang pendidikan di Indonesia. Usul yang dia lontarkan sepanjang tahun 1979-1981 ini membuat heboh dunia pendidikan. Dia juga orang yang mengkritik keras minimnya gaji guru yang dia sebut dapat merusak dunia pendidikan. Dia membandingkan gaji guru jaman Belanda yang dua kali lipat daripada gaji dokter. Sehingga guru tak perlu mencari tambahan dan dunia pendidikan tidak dicampurbaurkan dengan bisnis.Dia juga mempunyai andil besar dalam merintis program penerimaan mahasiswa melalui UMPTN. Ketika itu (1979-1980), Slamet menjadi Ketua Komisi Pembaruan Pendidikan Nasional (KPPN, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Saat itu terjadi booming lulusan SMA yang ingin masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sebagai contoh, UI yang kapasitasnya sekitar 800 mahasiswa tapi jumlah pendaftar 4000 orang. Maka melalui komite yang diketuainya dibentuklah satu sistempenerimaan calon mahasiswa yang sejak 1979 sudah berlangsung dengan nama yang sekian kali berubah mulai dari Skalu, Proyek Perintis, Sipenmaru (Sistim Penerimaan Mahasiswa Baru) dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Pria yang dikenal terus terang dan sempat menjadi Penjabat Rektor UI, ini meskipun sudah mengakhiri jabatan sebagai Ketua Komisi Pembaruan Sistem Pendidikan, 1980, ia masih sempat mengurusi penerimaan calon mahasiswa pada tahun 1981. Sudah sangat banyak tokoh pendidikan bekas murid Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (1950-1953) serta mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini. Di antaranya, Conny Semiawan, Fuad Hassan, Sujudi, Wardiman Djojonegoro, Mahar Mardjono dan Saparinah Sadli. Para mantan mahasiswanya ini sangat menghormati dan mengagumi gurunya ini. Mereka mengenangnya sebagai guru yang sangat akrab dan suka menularkan pengalaman. Salah satu ucapannya dalam acara peringatan 100 tahun Albert Einstein di ruang Rektorat UI, 1979: ''Ciri orang pandai, hal yang ruwet bisa disederhanakan, sebaliknya orang bodoh akan meruwetkan soal sederhana.'' Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1973), ini juga penulis terkemuka. Dia sering menulis kolom di berbagai media dan juga menulis buku. Di antara bukunya yang terkenal adalah Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Sinar Hudaya, Jakarta (1977); The Social Background For Psychotheraphy in Indonesia; Psychiatry dan Masyarakat; Kesejahteraan Jiwa; School Health in the Community; Sekolah Sebagai Sumber Penyakit atau Sumber Kesehatan; Dasar Stadium Generale, Pendidikan Universitas Atas Dasar Teknik dan Keilmuwan, Dasar-dasar Pokok Pendidikan; dan Pendidikan Indonesia dari Masa ke Masa yang diterbitkan oleh CV Haji Masagung, Jakarta, 1987. Sebagai dokter ahli penyakit saraf dan jiwa, dia memasang iklan menutup praktek untuk selamanya, 1 Januari 1979. Dia menyadari dirinya sudah tua. Dia pun mengaku sudah capek. Lahir TerbungkusPemberian namanya, Slamet Iman santoso, terkait dengan proses kelahirannya. Dia dilahirkan dalam keadaan terbungkus ari-ari. Ketika itu, semua penduduk desa heran dan membicarakannya. Dia dianggap sebagai bayi ajaib. Dipercaya bayi yang lahir terbungkus ari-ari itu kelak akan mempunyai kelebihan. Sangat jarang kelahiran bayi terbungkus.Saat bayi terbungkus itu lahir, orang-orang yang melihatnya heran dan bertanya: "Mana bayinya, mana bayinya?" Untunglah tidak semua penduduk desa panic terheran-heran. Seorang tetangga, Nyonya Tambi, isteri seorang petani Indo, membantu membukakan bungkus ari-ari yang membungkusnya. Bayi itupun menangis dan lahir dengan selamat. Maka kata selamat (menjadi Slamet) dijadikan nama jabang bayi yang baru lahir itu. Dia memang terlahir dari keluarga berpendidikan pada zamannya. Ayahnya seorang Asisten Wedana Banjaran. Di bawah pengasuhan ayahnya, Slamet menikmati masa kecilnya dengan penanaman nilai-nilai keramahan, saling tolong-menolong dan gotong-royong. Dia pun berulangkali, kepada banyak orang, mengisahkan berbagai pengalaman masa kecil yang yang amat berkesan baginya. Salah satu pengalaman itu adalah ketika di suatu saat dia dan anak lain sedang sibuk mencari ucen-ucen, buah tanaman liar yang sangat manis dan biru warnanya. Eh, tiba-tiba Slamet terpeleset, hampir masuk selokan irigasi. Namun dia beruntung, karena anjing Pak Lurah melompat antara Slamet dan tebing selokan tadi, sehingga dia tertolong. Dia dan kawan-kawanya menceriterakan peristiwa itu kepada Ayah-Ibu Slamet. Sang Ayah dengan spontan mengharuskannya memberi makan si Macan (nama anjing tadi Pak Lurah) itu. Masa kecil dan remaja anak sulung dari dua bersaudara ini sangat bahagia. Ia ikut kakeknya di Magelang, Jawa Tengah. Saking nakalnya, dia dijuluki teman-temannya 'setan alas'. ''Saya senang main ketapel, berburu anjing dan burung,'' katanya, sebagaimana dikutip dalam Buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986. Bahkan mengaku sekali-kali mengganggu orang. Namun masa kecil dan remajanya diisi dengan mengecap pendidikan pada jaman kolonial Belanda di Magelang, mulai dari Europeesche Lagere School (ELS), Hollandsch Inlandsche School (HIS (1912-1920) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO (1920-1923). Kemudian melanjut ke MAS-B, Yogyakarta (1923-1926); Indische Arts, Stovia (1926-1932); dan Geneeskunde School of Arts, Batavia Sentrum (1932-1934).Dia pun terkesan sangat mengagungkan pendidikan masa kolonial Belanda itu. Walaupun dia menyadari kondisi pendidikan ketika itu sangat berbeda disbanding setelah Indonesia merdeka. Dia mengenang, pada zamannya bersekolah dulu, sangat diasakan betapa guru sangat begitu memperhatikan murid dan bersatu dengan orang tua murid. Hal yang sudah jarang terjadi saat ini. Masuknya Jepang, menurutnya, memberi andil atas awut-awutannya pendidikan di negeri ini. Terasa sekali suasana pendidikan zaman Belanda yang terkesan akrabnya hubungan orang tua-murid-guru, tiba-tiba hilang lenyap, diganti dengan jaman pendidikan Jepang yang mulai awut-awutan. Ironisnya, kondisi ini terus berlangsung sampai sekarang. Dia memberi beberapa bukti. Di antaranya, sekarang ada guru yang mengasih tahu bahan ujian yang akan diuji kepada murid.AbumawasProfesor emeritus Fakultas Psikologi UI ini juga dikenal sebagi tokoh yang jahil dan sering dinilai aneh. Dia sendiri mengibaratkan diri sebagai Abunawas. Karena, menurutnya, Abunawas itu tokoh penuh akal. Jiwa Abunawas itu pun banyak menyemangati hidupnya.Dalam buku, Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986, diceritakan sekali waktu dia melihat mobil seorang pejabat UI diparkir salah dengan posisi miring di halaman kampus UI. Ia mengambil kertas dan menulisnya dengan spidol: "Barangsiapa yang parkir mobil miring, otaknya juga miring". Ketika Bung Karno menanyakan pendapatnya mengenai semboyan "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit", Slamet dengan tenang menjawab "Nggak, malah saya gantungkan di cantelan baju. Kalau usang kan bisa diganti."Suatu ketika, dia menyatakan terheran-heran karena ada orang yang dipinjami buku, mengembalikan buku itu dengan utuh. "Baru sekarang saya temukan orang yang saya pinjami buku mengembalikannya dengan utuh," katanya. Dia bilang, hanya orang bodoh yang meminjamkan buku kepada orang lain, dan orang yang mengembalikan buku pinjaman pun adalah orang gila.Hidupnya yang selalu ceria diwarnai canda memberi andil besar atas usianya yang lanjut (97 tahun). Padahal dia tak senang olah raga, termasuk olah raga pagi. Becanda, dia bilang: ''Pagi-pagi itu 'kan hawanya segar. Kok dipakai buat berkeringat, lebih baik dipakai untuk tidur.''

Sumber : www.tokohindonesia.com

Sinopsis Kajian Psikologi Islam

Psikologi Islam adalah sebuah kajian yang baru dikembangkan di awal tahun 60-an. Karenanya tak heran bila kemudian belum banyak yang mengenalnya; terlebih karena penarapannya belum begitu jelas. Ia masih suatu hal yang perlu dirumuskan kembali.

Kajian ini bermula dari usaha Dr. Zakiah Drajat yang mulai mengenalkan psikologi dari tinjauan agama. Namun baru pada tahun 1994, melalui simposium nasional, para peminat psikologi Islam akhirnya dikumpulkan dan muncullah kesepakatan untuk menamakan pengetahuan baru tersebut dengan nama psikologi Islam, setelah sebelumnya, banyak nama diusulkan, di antaranya adalah Psikologi Qur’ani, Psikologi Tasawwuf dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, Psikologi Islam lebih mengarah pada pendekatan kajian sains dengan kajian ilmu agama; yang secara spesifiknya adalah mendekatkan kajian psikologi pada umumnya dengan kajian al-Qur`an. Dengan demikian maka dipahami bahwa landasan filsafat ilmu dari psikologi Islam adalah konsep manusia menurut al-Qur`an. Mujib mengemukakan bahwa dalam konsep manusia menurut al-Qur`an adalah konsep yang menyatakan bahwa manusia bukan hanya terstruktur dari jasmani; tapi juga ruhani. Sinergi keduanya inilah yang membentuk nafsani. Dari ketiga sistem inilah terbentuk kepribadian individu manusia.

Perkembangan kajian psikologi Islam bisa dikatakan cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari makin meningkatnya jumlah tenaga pengajar ataupun mahasiswa yang tertarik menadalami bidang pengetahuan yang terbilang cukup baru ini. Bahkan di beberapa perguruan tinggi sudah mulai dibuka peminatan psikologi Islam.

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API), Hanna Djumhana mengungkapkan bahwa tujuan dikembangkannya psikologi Islam adalah untuk mempertahankan kesehatan mental dan keimanan dalam diri individu. Kajian ini menggunakan lebih menitik beratkan pada dimensi spiritual dikarenakan dimensi ini merupakan sumber dari potensi, bakat, sifat dan kualitas diri manusia. Bahkan, dimensi ini merupakan satu dimensi yang tidak pernah tergoncang walaupun pemiliknya sedang sakit secara fisik maupun psikis.

Prospek Kajian ini ke depak bisa dikatakan sangat cerah; khususnya karena prinsip universalitas yang ada pada psikologi Islam membuatnya tidak hanya bisa diaplikasikan oleh kaum muslim belaka; namun juga bisa diaplikasikan oleh kalangan non-muslim.

Sabtu, 17 Januari 2009

jAngan tAkut mAti, tp jgn cAri mAti

Apa yg paLing kmu tAkuti dLm hidup?? pAsti byk yg jAwabannya KEMATIAN!!!. mEngapa kaLian takut mAti saudAra ku?? krn meRasa byk dOsa, ya?? ya kan??!!!

kamu yAkin kLo smw org pst akan mAti. tp cb bAyangkan, jika tiba2 td mLm kitA mati, LaLu ap yg akan kita pertAnggungjwabkan dhadapan Allah?? PertAnyaannya, apakah kita siap untuk mati??
kitA tak pernah tau kpn kita mati. Hanya Allah yg Lbh tw mngnai waktunya.

kpn c bAgusnya kita MEnyiapkan kematian itu?? kEtika kita mati ga ad satu orAng pun yg Mnemani kita. Ayah ibu kitA hny diam tak mmpu bErbuat ap2 sLain mEnangis & mndOakan kita yg sudAh trbujur KAku. Harta yg kAu banggakan tak mampu mEnoLongmu, tEman2mu tak mampu BerbuAT ap2. tak ad yg mampu mEnoLongmu kcuaLi amaL2mu spnjang kmu hdup d duniA.

jAdi,,,, JANGANLAH KAMU TUNDA-TUNDA UNTUK BERAMAL BAIK. MuLaiLah dr skrg smp kmu dpanggiL oLh Allah untuk Menghadap-Nya.

TinggaL kmu sndiri mEnghitung-hitung amaLmu, Lbh byk baik ataw burukkah?? kLo kmu skrg sudh mErasa Lbh byk amaL buruknya, kmu pasti tw kan nnt akan dtEmpatkan dmana???

kLo kmu akan msk NerAka, sudah siapkah kamu?? dAn kLo kmu ingin surganya Allah, bnyakkah amaL yg akan mEngantarkanmu k dLm surga-Nya????

Dengan api duNia saja kmu ga kuAt, ap Lg dg api nEraka??? bErdoaLah kmu saudara2ku :

"YA ALLAH, AMPUNI SEGALA DOSA KAMI & TERIMA SEMUA AMAL IBADAH KAMI. YA ALLAH.... MATIKAN KAMI DLM KEADAAN MATI YANG HUSNUL KHATIMAH".
amiiiieeennnn

sAudarakuu,,, muLai hri ini jgn tAkut mati ya...... tp jgn cri mati!!!
sMoga kita sEmua trmasuk orang2 yg mnyiapkan diri untk mEnghadapi kEmatiannn...

amieennn ya Allahhh

Jumat, 16 Januari 2009

CARA OTAK BEKERJA...

Petunjuk "melihat" gambar :
- Kalau pandangan mata Anda mengikuti gerakan putaran bulatan warna
PINK, maka hanya akan terlihat bulatan satu warna yaitu PINK.

- Tapi kalau pandangan mata Anda terpusat ke tanda "+" hitam di
tengah, maka bulatan yang berputar akan berubah warnanya menjadi HIJAU.

- Kemudian jika pandangan mata Anda konsentrasi penuh ke tanda "+"
hitam di tengah-tengah gambar, maka perlahan-lahan bulatan warna PINK
akan menghilang, dan hanya akan terlihat satu saja bulatan yang
berputar yaitu warna HIJAU.
Sangat mengagumkan cara otak kita bekerja. Sebenarnya tidak ada
bulatan warna hijau, dan bulatan warna pink juga tidak menghilang.
Rasanya cukup membuktikan bahwa kita tidak selalu melihat apa yang
kita pikir, dengan kata lain kita melihat sesuatu "bukan apa adanya"
tapi "sebagaimana kita melihatnya" .

Kadang kita menghadapi suatu masalah merasa "sangat sulit" atau
"sangat berat" (baik di tempat kerja, di keluarga, di lingkungan
masyarakat maupun masalah pribadi diri sendiri), bahkan kadang
terlintas pertanyaan di benak kita, kenapa demikian berat beban
masalah/cobaan yang kita terima ? (padahal kalau kita menerima
anugrah/hadiah/ kenikmatan yang demikian besar, kita tidak pernah
mempertanyakan nya, kenapa kok saya yang menerima).

Berat/ringan, kecil/besar, masalah/bukan masalah, sedih/gembira,
hukuman/pahala, derita/bahagia. ..dst.....bukankah itu hanyalah "cara
pandang" kita terhadap sesuatu ?

Suatu peristiwa/kejadian yang sama, namun jika melihatnya dengan sudut
pandang yang berbeda serta me-makna-inya dengan berbeda kemudian
menyikapinya dengan cara yang berbeda pula, maka hasil-nya juga akan
berbeda. Semua hanya ada di benak kita sendiri ! Karena otak kita lah
yang membuatnya berbeda ! Jika suatu peristiwa yang negatif namun
kalau kita memandang/memaknai nya sebagai hal yang positif dan kita
menyikapi dengan cara yang positif maka hasilnya pun akan positif pula.
Dan begitu sebaliknya .....

Suatu peristiwa buruk, apabila itu kemudian mendatangkan kebaikan bagi
kita, maka itu adalah merupakan suatu "kebaikan".
~Have a wonderfull life~

About PsikoLogi isLam

Psikologi Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sebagai disiplin
ilmu yang relatif muda, Psikologi Islam diharapkan dapat memberikan
kontribusi positif bagi pembentukan pribadi manusia ideal (insan
kamil). Karena kita sadari, Psikologi Barat (modern) ternyata tidak
bisa memberikan jawaban secara lebih utuh terhadap problem-problem
manusia yang begitu unik. Bagi Psikologi Barat, manusia hanya
diletakkan dalam tinjauan yang bersifat egosentris, sedangkan manusia
itu sendiri memiliki rangkaian kemanusiannya yang lebih lengkap, yaitu
jasad (tubuh), ruh, nafs (jiwa) dan qalb (hati). Jika manusia hanya
ditinjau dari satu sisi saja, maka sosok manusia tidak akan pernah
terpotret secara utuh.
Oleh karena itu, kehadiran Psikologi Islam sebagai mazhab kelima
menjadi keniscayaan. Terlepas masih pro-kontra penamaan Psikologi
Islam maupun Psikologi Islami dan sebagainya, Psikologi Islam menjadi
lahan "ijtihad intelektual" yang tidak pernah habis. Bahwa Psikologi
Islam dituduh sebagai tidak memiliki bangunan ilmiah, itu urusan yang
menuduh. Bisa karena mereka memiliki tendensi tertentu atau mungkin
belum mengkaji Islam secara lebih mendalam. Namun, yang jelas,
Psikologi Islam mendasarkan kerangka teori dan bangunan penelitian
didasarkan pada nilai-nilai Alquran, Hadits dan warisan (turats)
intelektual Islam masa lalu.