Psikologi Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sebagai disiplin
ilmu yang relatif muda, Psikologi Islam diharapkan dapat memberikan
kontribusi positif bagi pembentukan pribadi manusia ideal (insan
kamil). Karena kita sadari, Psikologi Barat (modern) ternyata tidak
bisa memberikan jawaban secara lebih utuh terhadap problem-problem
manusia yang begitu unik. Bagi Psikologi Barat, manusia hanya
diletakkan dalam tinjauan yang bersifat egosentris, sedangkan manusia
itu sendiri memiliki rangkaian kemanusiannya yang lebih lengkap, yaitu
jasad (tubuh), ruh, nafs (jiwa) dan qalb (hati). Jika manusia hanya
ditinjau dari satu sisi saja, maka sosok manusia tidak akan pernah
terpotret secara utuh.
Oleh karena itu, kehadiran Psikologi Islam sebagai mazhab kelima
menjadi keniscayaan. Terlepas masih pro-kontra penamaan Psikologi
Islam maupun Psikologi Islami dan sebagainya, Psikologi Islam menjadi
lahan "ijtihad intelektual" yang tidak pernah habis. Bahwa Psikologi
Islam dituduh sebagai tidak memiliki bangunan ilmiah, itu urusan yang
menuduh. Bisa karena mereka memiliki tendensi tertentu atau mungkin
belum mengkaji Islam secara lebih mendalam. Namun, yang jelas,
Psikologi Islam mendasarkan kerangka teori dan bangunan penelitian
didasarkan pada nilai-nilai Alquran, Hadits dan warisan (turats)
intelektual Islam masa lalu.
Jumat, 16 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
semangat,
BalasHapuspasti bisa!