Sabtu, 18 Juli 2009

DIAM ITU EMAS

(Diam Aktif)
K.H. Abdullah Gymnastiar

Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas
Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

c. Diam Sombong
Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah
Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jah lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)
Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

2. Keutaam Diam Aktif

a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul
Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:
1. Diam dari perkataan dusta
2. Diamdari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
4. Diam dari kata yang berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti
8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga.

AgAma itu NASehat (HR . MusLim)

Nasehat adalah kewajiban umat beriman dan misi para nabi dan rasul (QS 7:68; 7:93). Rasulullah SAW, mengingatkan bahwa banyak umat yang binasa akibat ketidakpedulian mereka terhadap nasehat. Bahkan beliau SAW menegaskan agama sebagai praktek memberikan nasehat kepada umat Islam. Artinya, nasehat dijadikan alat (tool) yang utama darikebenaran, umpan balik (feed back) kejujuran dalam masyarakat Islam.

Persaudaraan dan kecintaan merupakan kelanjutan dari keimanan seseorang. Jika kita mencintai saudara seiman, ukuran kecintan ialah berapa banyak nasehat yang ikhlas diberikan padanya. Karena menyayangi orang lain berarti bertanggung-jawab untuk menunjukkan kesalahan mereka. Memang, sahabat yang diperlukan dalam hidup ini adalah sahabat setia yang mau memberikan nasehat bila melihat saudaranya khilaf dan salah. Khalihah Umar RA. pernah berkata: "Semoga Allah merahmati siapa yang memberitahu kesalahanku. Kesalahan itu kuanggap hadiah". Beliau melihat kesalahan sebagai hadiah baginya. Sebenarnya, kesalahan bukan saja hadiah yang sangat berharga, tetapi
juga sesuatu yang tak dapat diabaikan.


Nasehat sebagai umpan balik
"Orang mu'min itu adalah cermin terhadap orang mu'min yang lain" (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Menurut nabi Muhammad SAW, seorang mu'min adalah cermin bagi saudaranya. Di cermin kita melihat bayangan kita dengan tepat dan jelas. Maka, kita harus melakukan yang sama ketika memindahkan gambaran tersebut kepada saudara seiman melalui nasehat. Ingatlah,
kita berbuat sesuatu tanpa kemampuan untuk meneliti diri kita sendiri. Ini adalah kelemahan kita. Tetapi Allah SWT menutupi kelemahan itu dengan menghadirkan saudara mu'min yang lain sebagai cermin antara satu dengan yang lain. Melalui perbuatan mereka kita dapat melihat perbuatan kita.

Nasehat adalah komunikasi dua arah (103:3). Setiap mu'min harus siap memberi dan menerima nasehat. Keduanya memerlukan kekuatan pribadi. Orang yang dinasehati mestilah menerima dengan hati dan pikiran terbuka, senyuman yang berseri dan rasa syukur, diikuti dengan kesungguhan untuk memulai memperbaiki diri.


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memberikan nasehat:
• Menyampaikan dengan ikhlas dan kasih sayang
• Tidak menunjukkan kesalahan di depan orang banyak
• Sabar dalam melihat perubahan
• Tugas kita adalah memberi nasehat dan ia akan berhasil hanya dengan izin Allah


By Jundia of Anonim


Blog EntryURGENSI DAKWAHJan 11, '08 2:53 AM
for everyone

Umat Islam sekarang ini sedang berusaha bangkit. Namun berbagai julukan yang tidak baik ditujukan kepada umat Islam di berbagai belahan dunia. Kondisi ini sangat bertolak belakang sekali dengan masa-masa kejayaan Islam dahulu. Peradaban Islam yang begitu tinggi pernah mewarnai dunia. Berbagai analisa yang telah dilakukan para ulama tentang penyebab kemunduran umat Islam, merujuk kepada satu sebab yaitu jauhnya umat Islam dari Al-Qur`an. Al-Qur`an yang telah disediakan oleh Allah sebagai petunjuk hidup manusia, sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

Kejauhan umat Islam dari Al-Qur`an ini disebabkan oleh dua faktor yaitu kondisi intern umat Islam sendiri dan adanya upaya dari pihak luar. Kondisi intern ini yaitu kondisi dimana umat Islam tidak lagi mengacuhkan Al-Qur`an sebagaimana telah dilansir oleh Allah dalam Qs.25:30. Al-Qur`an hanya dijadikan sebagai simbol saja. Disamping itu juga memang ada pihak luar yang ingin menjauhkan umat Islam dari pedoman hidupnya yang pada akhirnya umat Islam tidak lagi mempunyai kekuatan. Dua hal ini menyebabkan umat Islam sendiri tidak mengenal Islam dengan baik, misalnya terjadi pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Bahkan banyak umat Islam yang justru kehilangan harga diri, merasa diri rendah (imperiority complex). Pada akhirnya umat Islam kehilangan kepribadiannya. Kepribadian Islam tidak lagi tercermin dari umat Islam. Inilah tugas berat para du’at untuk mendekatkan kembali umat Islam dengan Al-Qur`an untuk digunakannya sebagai pedoman dalam kehidupannya.
Pentingnya Dakwah
1. Merupakan kebutuhan yang mendesak, karena tanpa dakwah manusia akan rusak dan tanpa aturan. Di lain pihak banyak penyeru kearah kebatilan yang tidak henti-hentinya juga mengajak kepada kebatilan.
2. Merupakan kebutuhan sosial, yaitu dengan alasan :
- Karena manusia membutuhkan orang yang menjelaskan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Allah (36:6;17:15).
- Karena kondisi kehidupan umat saat ini diwarnai oleh kerusakan moral, dan para pelakunya ingin agar kerusakan tersebut tersebar di masyarakat (4:89;9:67).
3. Merupakan kewajiban yang dituntut syar`i:
- Dakwah adalah wajib atas setiap muslim (3:104,110; 9:71). Dari Nu`man bin basyir r.a, dari Nabi SAW bersabda, Perumpamaan orang yang senantiasa melaksanakan hukum-hukum Allah dan orang yang terperosok didalamnya adalah laksana orang-orang yang membagi tempat dalam suatu bahtera, dimana ada sebagian orang yang duduk diatasnya, adapula yang duduk dibawahnya. Ketika orang-orang yang ada dibawahnya memerlukan air, tentu mereka harus melintasi orang-orang yang ada dibagian atas. Kemudian mereka berkata "Kami akan lubangi saja bagian bawah ini". Jika orang yang berada di atas membiarkan apa yang diinginkan orang yang di bawah, niscaya akan binasalah semua. namun bila mereka mencegah perbuatan itu maka akan selamatlah semua.
- Dari Abu Sa`id al khudri r.a, ia berucap Kudengar Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, ubahlah dengan hatinya. Dan yang demikian itu selemah-lemahnya iman". (HR. Imam Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu majah)
4. Adanya ancaman bagi yang tidak mau berdakwah (2:174; 3:187; 16:44).
5. Merupakan tugas kita untuk meneruskan misi perjuangan para nabi dan rasul (42:13).
Keutamaan Dakwah
Merupakan perbuatan/perkatan yang terbaik (41:33; 33:45-46).
Merupakan salah satu jalan menuju kebaikan. Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menyuruh kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka." (HR. Muslim).
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Ali r.a, "Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui kamu itu lebih baik daripada unta merah." (HR. Muttafaqun`alaih)
Dakwah merupakan aktivitas yang mulia dan luhur, tetapi juga merupakan kewajiban yang berat. Agar dakwah ini berhasil ia membtuhkan pribadi yang tangguh untuk memikulnya. Untuk itu dibutuhkan faktor-faktor pendukung keberhasilan dakwah, yaitu sebagai berikut :
  1. Al-Fahmu ad-Daqiq (Pemahaman yang rinci)
  2. Al-Iman al-`Amiiq (Keimanan yang dalam)
  3. Al-Hubb al-Watsiiq (Kecintaan yang kokoh)
  4. Al-Wa`yu al-Kaamil (Kesadaran yang sempurna)
  5. Al `Amal al-Mutawashil (Kerja yang kontinyu)
REFERENSI
    • DR. Fadhl Ilahy, Menggugah Semangat Berdakwah, Khazanah Ilmu.
    • Jum`ah Amin Abdul Aziz, Fiqh Dakwah, Citra Islami Press
    • Panduan aktivis Harokah, Pustaka Al-Ummah